Sistem nursery pond atau two step adalah sistem budidaya udang yang menggunakan kolam transisi antara hatchery dan tambak pembesaran. Teknis dan pengelolaan sistem budidaya ini membutuhkan perhatian lebih untuk memastikan keberhasilan dan efektivitasnya.

Penggunaan benur hasil nursery menawarkan berbagai keuntungan yang dapat meningkatkan efisiensi dan keberhasilan budidaya udang.

Menurut Achmad Jerry, CEO Venambak Kail Dipantara, nursery pond dalam konteks budidaya udang modern merupakan ruang inkubasi untuk benur bertumbuh dulu bagian tubuhnya secara sempurna sebelum masuk kekolam pembesaran. Layaknya sebuah inkubasi, semua penentu kualitas air dan biosekuriti dijaga sebaik mungkin guna pertumbuhan benur.

 

Cara meminimalisasi resiko di kolam pembesaran, dengan deteksi awal benur dapat bertumbuh dengan normal atau cepat, dapat diputuskan di kolam nursery. Ini akan sangat membantu hubungan petambak dan hatchery untuk lebih tepat dalam menentukan akar masalah di tambak sejak dari pertumbuhan benur.

Tantangan teknis yang sering dihadapi dalam pengelolaan nursery pond, jumlah oksigen yang cukup besar diperlukan saat perawatan benur serta tingkat aktivasi pompa yang rutin dalam mensirkulasikan airnya. Tentunya buat petambak kecil, akan sangat terasa adanya penambahan biaya listrik (dari energi pengerak air dan oksigen). Namun dengan potensi kualitas benur lebih terjaga dan terukur, pengeluaran biaya tambahan listrik dan aerator di tahapan nursery terkompensasi dengan adanya peningkatan SR di kolam pembesaran.

Dengan benur yang lebih kuat, efisiensi pakan yang lebih baik, masa budidaya yang lebih singkat, serta tingkat keberhasilan yang lebih tinggi, sistem ini menjadi pilihan yang patut dipertimbangkan oleh para petambak.

Waktu pemeliharaan di kolam nursery berkisar antara 20-25 hari. Durasi budidaya ini bergantung pengelolaan kualitas air, pakan & sistem sirkulasi air. Meskipun masih belum banyak diterapkan di Indonesia, keunggulan yang ditawarkan oleh sistem nursery dapat membantu petambak dalam menghadapi tantangan budidaya udang, terutama dalam mengurangi risiko penyakit dan meningkatkan
produktivitas.

Dimana benur udang dirawat dengan perlakuan inkubasi yang terkendali (oksigen, pergantian air, pakan, probiotik), dan berpotensi untuk SR 100% di kolam nursery. Saat dipindahkan udang yang sudah berbentuk tubuhnya lebih mudah dihitung jumlah benurnya, yang tentunya akan mempengaruhi manajemen pakan dan kualitas air berdasarkan populasi benur yang lebih akurat, dibanding penebaran benur langsung dari hatchery.

Saat udang sudah terbentuk tubuhnya secara sempurna, kemampuan adaptasi di kolam pembesaran serta kemampuan memakan pakan menjadi lebih baik. Tentunya membantu percepatan pertumbuhan harian (ADG).

Dengan investasi yang tepat dan manajemen yang baik, sistem nursery dapat menjadi solusi jangka panjang untuk budidaya udang yang lebih berkelanjutan dan menguntungkan.

Selengkapnya Download di Sini Info AKUAKULTUR Eds 126 – JULI 2025

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *