Memasuki tahun 2026, industri akuakultur Indonesia memberikan perhatian khusus pada efisiensi pakan yang mencakup 50–60% dari total biaya produksi.

Tantangan utama yang dihadapi pembudidaya saat ini adalah tingginya harga bahan baku pakan serta risiko penyakit yang masih mengancam produktivitas.

Penggunaan pakan fungsional (functional feed) menjadi solusi strategis untuk meningkatkan imunitas udang terhadap serangan penyakit seperti AHPND dan WFD.

Manajemen pakan yang presisi, termasuk disiplin penggunaan anco, sangat krusial untuk mencegah pemborosan pakan (overfeeding) yang dapat merusak kualitas air.

Inovasi zat aditif seperti ragi terhidrolisis dan probiotik kini semakin luas diadopsi untuk meningkatkan daya cerna dan menekan nilai FCR (Feed Conversion Ratio).

Di sisi lain, transformasi manajemen di tingkat petambak mulai bergeser dari sekadar mencari pakan murah ke pakan yang lebih efektif untuk pertumbuhan harian (ADG).

Selain aspek teknis, penguatan kelembagaan dan disiplin akuntabilitas dalam operasional tambak menjadi faktor penentu keberhasilan transformasi usaha.

Kondisi lingkungan yang dinamis, terutama saat musim hujan, menuntut pembudidaya lebih waspada terhadap perubahan parameter air yang cepat.

Keberlanjutan industri akuakultur nasional pada 2026 bergantung pada kemampuan pembudidaya dalam menyiasati biaya pakan melalui teknologi dan manajemen yang tepat.

Selengkapnya Download di Sini Info Akuakultur Eds_133_Tahun XI_FEBRUARI_2026

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *