
Anggota DPR RI, Prof Rokhmin Dahuri kembali menyerukan kepada masyarakat untuk lebih menghargai dan mengonsumsi ikan bandeng sebagai salah satu sumber pangan unggulan Indonesia.
Pernyataannya itu merujuk pada hasil riset Balai Pengembangan dan Penelitian Mutu Perikanan (1996), yang mencatat bahwa kandungan omega-3 pada ikan bandeng mencapai 14,2 persen, jauh melampaui kandungan omega-3 pada ikan salmon yang hanya 2,6 persen.
“Kenapa harus bangga pada salmon, padahal bandeng kita lebih bernutrisi, lebih murah, dan mudah didapat?” tegas Prof. Rokhmin.
Menteri KKP di era Gus Dur dan Megawati itu menekankan bahwa sudah seharusnya masyarakat Indonesia menjadikan bandeng sebagai kebanggaan nasional, bukan sekadar alternatif.
Bandeng, yang dalam Bahasa Inggris dikenal sebagai milkfish karena dagingnya lembut seperti susu, merupakan salah satu komoditas perikanan yang paling populer di Indonesia. Ikan ini dikenal dengan cita rasa gurih, tekstur yang lembut, dan harga yang terjangkau. Di Makassar, bandeng bahkan punya sebutan khas: ikan bolu.
Namun, tantangan dalam mengonsumsi ikan bandeng adalah banyaknya duri halus yang membuatnya butuh pengolahan khusus. Untungnya, inovasi pangan Indonesia telah menghasilkan beragam olahan populer dari ikan ini, seperti bandeng asap, bandeng presto, dan sate bandeng yang lezat.
Menurut catatan sejarah, ikan bandeng pertama kali ditemukan oleh Dane Forskall di Laut Merah pada 1925. Kini, bandeng ditemukan hampir di seluruh dunia, mulai dari Samudra Hindia, Pantai Amerika, Afrika, Jepang bagian selatan, hingga Australia utara. Ikan ini termasuk dalam spesies Chanos chanos, dari famili Chanidae.
Salah satu keistimewaan bandeng adalah sifat euryhaline yang memungkinkan ikan ini bertahan di air dengan kadar garam yang bervariasi, mulai dari 0 hingga 45 ppt. Dalam budidaya, bandeng tumbuh optimal pada salinitas 15–25 ppt dengan suhu air 12–40°C. Kemampuan adaptasi yang luar biasa ini menjadikannya primadona bagi masyarakat pesisir karena bisa dibudidayakan di perairan asin, payau, hingga tawar.
Selain itu, bandeng juga memiliki sifat anadromous, yaitu bermigrasi dari laut untuk memijah, kemudian kembali ke perairan payau untuk tumbuh besar. Benih bandeng (nener) biasanya hidup di air asin hingga berusia 2–3 tahun, lalu bermigrasi ke perairan yang lebih tenang dan payau.
Budidaya bandeng pun menjadi sumber penghidupan penting bagi masyarakat pesisir. Dengan memanfaatkan sifat adaptif bandeng terhadap berbagai kondisi air, lahan-lahan yang kurang produktif pun bisa dimanfaatkan untuk tambak bandeng. Selain itu, bandeng yang herbivora dapat dibudidayakan secara polikultur bersama udang atau kepiting, sehingga meningkatkan keuntungan petani tambak. Bandeng juga relatif mudah diberi pakan komersial, sehingga tidak membutuhkan biaya tinggi.
Dengan segala keunggulan tersebut kaya nutrisi, mudah dibudidayakan, murah, dan bernilai ekonomi.
Prof. Rokhmin mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bangga dengan ikan bandeng.
“Kita punya kekayaan yang luar biasa. Jangan silau dengan ikan impor. Mari kita makan bandeng Indonesia!” serunya.
Bandeng bukan sekadar komoditas pangan, tetapi juga lambang kearifan lokal yang menyatukan rasa, tradisi, dan ekonomi masyarakat pesisir Indonesia. Dengan terus mengembangkan inovasi pengolahan dan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang manfaat bandeng, diharapkan ikan ini bisa benar-benar menjadi ikon kebanggaan bangsa.
