BUDIDAYA ANGGUR LAUT (Caulerpa racemosa) MELALUI MEDIA TANAM RIGID QUADRANT NETS BERBAHAN BAMBU
Caulerpa merupakan salah satu genus alga laut dari Famili Caulerpaceae dan termasuk spesies dari Kelas Chlorophyceae (alga hijau) (Atmadja et al. 1996). Hamel (1931) diacu dalam Raniello et al. (2004) menyatakan bahwa jenis Caulerpa racemosa pertama kali ditemukan pada tahun 1926 di sepanjang pantai Tunisia perairan Mediterania. Makroalga laut jenis Caulerpa racemosa memiliki thalus berwarna hijau seperti tanaman rumput, terdiri dari banyak cabang tegak yang tingginya sekitar 2,5-6,0 cm. Batang pokok berukuran antara 16-22 cm. Terdapat bulatan bulatan seperti anggur pada puncak cabang, panjang setiap puncak cabang sekitar 2,5-10,0 cm (Trono dan Ganzo-Fortes 1988 diacu dalam Suhartini 2003). Caulerpa merupakan salah satu jenis rumput laut yang cukup potensial untuk dibudidayakan karena telah dikenal dan digemari oleh sebagian masyarakat. Caulerpa ini dimanfaatkan tidak hanya untuk konsumsi sebagai makanan tetapi juga telah dimanfaatkan sebagai bahan campuran untuk obat anti jamur (Suhartini, 2003). Di Indonesia Caulerpa dikenal dengan sebutan Latoh (jawa), Bulung Boni (Bali), Lawi-Lawi (Sulawesi), sedangkan di Jepang disebut Umi Budo. Caulerpa ini bentuk dan rasanya menyerupai telur ikan Caviar, sehingga dikenal sebagai ”green caviar”.
Selain itu juga karena bentuknya menyerupai anggur, sebagian orang menyebutnya sebagai “sea grape” atau anggur laut. Selain berwarna hijau, ciri khas Caulerpa racemosa diantaranya mempunyai thalus dengan stolon berukuran kurang lebih 5 cm, perakarannya (holdfast) relatif besar dan meruncing seperti paku dengan panjang ramuli mencapai 8 cm. Ramuli merupakan organ cabang atau percabangan dari stolon sebagai orga utama, substansinya agak lunak dan terkesan kosong (gembos). Ramuli ini berdiameter antara 2-4 mm. Ramuli timbul pada stolon yang bercabang dan memiliki bulatan-bulatan dengan ujung yang rata dan bertangkai serta tersusun di sekitar dan sepanjang ramuli. Pada masa reproduksi, Caulerpa racemosa akan mengeluarkan substansi berwarna putih seperti susu, namun kemudian akan mati dalam satu atau dua hari. Awalnya Caulerpa racemosa akan kehilangan warnanya, kemudian hancur dan mengotori perairan.
Spesises ini sering ditemukan tumbuh pada berbagai substrat dengan sebaran yang luas (Atmadja et al. 1996). Distribusi dari rumput laut jenis Caulerpa racemosa ini tersebar luas di daerah tropis dan subtropis, seperti Filipina, Vietnam, Singapura, Malaysia, Thailand, Taiwan, Cina, Indonesia, dan daerah barat perairan Pasifik (FAO 2007). Alga jenis ini tumbuh pada perairan keruh dan permukaan substrat berlumpur lunak, tepi karang yang terbuka dan terkena ombak laut yang keras serta perairan tenang yang jernih dan bersubstrat pasir keras. Jenis ini sangat kuat melekat pada substrat karena akarnya kokoh dan bercabang pendek. Alga jenis ini pada beberapa daerah seperti Tapanuli dan Kepulauan Seribu dikonsumsi baik mentah maupun matang walaupun memiliki tekstur yang kasar dengan rasa pedas seperti lada (Trono dan Ganzo-Fortes 1988 diacu dalam Suhartini 2003). Caulerpa racemosa tumbuh bergerombol atau berumpun oleh karena itu sering disebut sebagai anggur laut. Keberadaannya dapat dijumpai di paparan terumbu karang dengan kedalaman hingga 200 m. Sebagai fitobentik, tumbuhan ini hidup menancap atau menempel di substrat dasar perairan laut seperti karang mati, fragmen karang, pasir dan lumpur. Pertumbuhannya bersifat epifitik atau saprofitik dan kadang-kadang berasosiasi dengan tumbuhan laut (Atmadja et al. 1996). Caulerpa sampai saat ini pemanfaatannya masih banyak mengandalkan dari alam, hanya sedikit yang tersedia melalui budidaya karena belum ditemukannya metode atau teknik budidaya yang optimal untuk Caulerpa. Di Indonesia teknik budidaya Caulerpa ini dilakukan dengan cara membenamkannya ke dalam substrat tanah seperti sistem menanam padi pada areal/lahan bekas tambak atau mengadopsi teknik budidaya seperti halnya di Jepang. Kondisi inilah yang menimbulkan permasalahan karena tidak disemua wilayah pesisir memiliki areal bekas tambak dan mahalnya biaya operasional teknologi budidaya dari Jepang tersebut. Oleh karena itu diperlukan suatu alih teknologi tepat guna untuk mengatasi permasalahan tersebut. Salah satunya dapat digunakan melalui rigid quadrant nets berbahan bambu untuk media tanamnya.
Teknik ini diharapkan mampu mengatasi kendala-kendala dalam pembudayaan Caulerpa racemosa untuk menunjang keberadaannya dalam jumlah besar dan secara kontinu, mengingat teknik ini mudah diterapkan, murah dari segi biaya pembuatan dan ramah lingkungan karena memanfaatkan bahan baku berupa bambu sehingga sangat mudah untuk diaplikasikan oleh masyarakat. Dalam penelitian ini yang menjadi tujuan utamanya adalah untuk mengkaji dan menganalisis efektifitas dan efisiensi rigid quadrant nets berbahan bambu dalam budidaya Caulerpa racemosa dan mengkaji kualitas dan kuantitas yang diperoleh dari penerapan rigid quadrant nets berbahan bambu dalam budidaya Caulerpa racemosa dalam mewujudkan pembudidayaan yang optimal dan ramah lingkungan guna meningkatkan daya saing masyarakat buleleng.
Penerapan rigid quadrant nets berbahan bambu atau dengan kata lain menggunakan substrat penempelan berbahan bambu secara kuantitas (jumlah hasil panen) tergolong baik, karena dari ketiga ulangan yang dilakukan bobot hasil panen melebihi 2 kali bobot awal penanaman. Menurut CBAD (2012) Caulerpa sp bisa tumbuh antara 10 – 13 kali setelah 3 bulan masa pemeliharaan, dimana berat awal 500 gr menjadi 6000 gr serta dengan bibit awal 120 – 140 kg, bisa dipanen setelah 20 hari, mencapai 900 kg – 1400 kg dan berikutnya bisa dipanen tiap hari (40 kg – 80 kg) selama 15 hari. Substrat atau media tanam berfungsi sebagai tempat melekatnya anggur laut, sedangkan anggur laut mendapatkan makanan dari air di sekitarnya melalui proses difusi.
Media bambu tergolong baik dapat disebabkan karena permukaannya yang agak kasar dan kaku sehingga rizoid lebih mudah untuk menempel dan berkembang. Di alam Caulerpa racemosa melekat pada batu atau substrat yang agak kasar untuk hidupnya. Menurut Trono dan Ganzo-Fortes (1988) diacu dalam Suhartini (2003) anggur laut tumbuh pada perairan keruh dan permukaan substrat berlumpur lunak, tepi karang yang terbuka dan terkena ombak laut yang keras serta perairan tenang yang jernih dan bersubstrat pasir keras. Jenis ini sangat kuat melekat pada substrat karena akarnya kokoh dan bercabang pendek. Jenis substrat memegang peranan dalam kehidupan alga, oleh karena itu substrat harus diperhatikan derajat kekerasannya, kelembutannya, ketidak teraturannya dan lain sebagainya. Tipe substrat ada bermacam-macam, yaitu pasir, lumpur, pasir campur lumpur, karang mati, karang hidup, dan pecahan karang. Akan tetapi menurut Mubarak (1982) tipe substrat yang ideal untuk pertumbuhan alga adalah reef area dengan dasar pasir karang bercampur dengan potongan karang.
Dari segi kualitas, Anggur laut yang dihasilkan menunjukkan kualitas yang tergolong baik, yaitu hijau tidak ada bercak putih dan tidak mudah rapuh sehingga layak untuk dijual atau dikonsumsi. Thallus yang memutih, berlendir, mudah putus dan akhirnya mati, hal ini merupakan tanda adanya penyakit “ice – ice”. Sesuai dengan pernyataan Doty (1987) dalam Yulianto dan Mira (2009), bahwa gejala “ice-ice” yaitu kondisi thallus terdapat bercak berwarna putih, berlendir dan semakin lama thallus patah. Ditambahkan oleh Trono (1988) yang menyatakan penyakit ini terjadi karena perubahan kondisi lingkungan yang tidak sesuai untuk pertumbuhan yang menyebabkan menurunnya daya tahan tanaman tersebut.
Suhu merupakan faktor lingkungan yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan Anggur Laut karena akan berpengaruh langsung terhadap proses metabolismenya. Suhu yang terlalu tinggi akan menyebabkan Anggur Laut memperlambat proses pertumbuhannya akibat menurunnya kerja enzim (degradasi enzim) dan cepat mengalami pemutihan thalus dan lepasnya ramuli (Hanafi, 2007).
Daftar Pustaka
Atmadja PS, Kadi A, Sulistijo, Satari R. 1996. Pengenalan Jenis-Jenis Rumput Laut Indonesia. Jakarta: Puslitbang Oseanologi LIPI.
Anggadiredja, J.T., Zatnika, A., Purwoto, H., Istini, S. 2006. Rumput Laut. Jakarta: Penebar Swadaya.
Anggorowati, D.A. 2004. Bioeliminasi Nitrat oleh Gracilaria salicornia pada Kegiatan Marikultur. UPT Loka Pengembangan Bio-Industri Mataram-Puslit.
Sumber: https://www.researchgate.net/publication
