Sistem Nursery Solusi Antisipasi Kegagalan di Awal Budidaya Udang

Permasalahan utama dalam budidaya udang yang dihadapi para petambak adalah penurunan kualitas lingkungan, perubahan iklim, ketersediaan benih yang bermutu dan serangan penyakit. Jika tidak dikelola dan diantisipasi dengan baik dan matang, hal ini akan menyebabkan kegagalan budidaya.

Memburuknya kualitas lingkungan tidak terlepas dari adanya perkembangan sistem budidaya dan peningkatan produksi udang, yang pada akhirnya menyebabkan limbah/buangan semakin meningkat. Kondisi ini menyebabkan penurunan kualitas air, meningkatkan kesuburan air untuk pertumbuhan populasi alga dan blue green algae (BGA)serta bibit penyakit.

Ledakan populasi BGA ini, pada akhirnya menyebabkan kematian massal alga. Akibatnya, kebutuhan oksigen biologis untuk mengurai bahan organik ini menjadi meningkat sehingga mengurangi kadar oksigen terlarut air yang menjadi kebutuhan udang.

Tidak hanya itu, kegiatan budidaya udang juga selalu dibayang-bayangi serangan penyakit yang berbahaya.

Beberapa penyakit yang saat ini sudah hadir di antaranya adalah WSSV atau penyakit bercak putih (1998), IMNV atau penyakit infectious myonecrosis virus (2006), white feces disease (WFD) (2014), Enterocytozoon hepatopenaei (EHP) 2015, dan AHPND atau acute hepatopancreatic necrosis disease (AHPND).

Sementara itu, penyakit yang bersifat lintas batas yaitu covert mortality nodavirus disease (CMNVD). Saat ini, penyakit AHPND masih menjadi ancaman yang serius bagi keberlangsungan budidaya udang. pasalnya, penyakit ini dapat menyebabkan turunnya produksi secara signifikan.

Berbagai permasalahan menjadi pemicu terjadinya kematian pada udang budidaya. Bahkan, tidak jarang masalah ini berakhir menjadi kerugian dan tutupnya bisnis budidaya. Untuk mengantisipasi masalah ini, sejumlah metode diterapkan, di antaranya adalah penggunaan metode nursery dalam proses budidaya.

Dengan menerapkan sistem ini, budidaya dilakukan melalui dua tahap, pemeliharaan di kolam nursery dan kolam pembesaran (grow out).

Sistem ini, berdasarkan pengakuan beberapa narasumber, dapat mencegah terjadinya serangan penyakit dan memberikan sejumlah keuntungan bagi pembudidaya.

Pendapat ini berdasarkan sejumlah fakta di lapangan dari beberapa negara yang sudah menerapkan metode ini.

Sekilas sistem nursery

Sistem nursery bukanlah barang baru bagi para pembudidaya udang di Indonesia. Hal ini diungkapkan oleh Ikhsan Kamil, Kepala Balai Layanan Usaha Produksi Perikanan Budidaya (BLUPPB) Karawang. Ia mengungkapkan, system nursery budidaya udang sudah lama dilaksanakan di Indonesia yang dikenal dengan sistem oslah. Akan tetapi, sistem ini tidak dilaksanakan secara intensif di Indonesia sehingga teknologi nursery Indonesia relatif lebih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Thailand.

Sistem nursery merupakan sistem penghubung antara hatchery dan grow out/pembesaran dengan rentang waktu 20–30 hari dimulai dari PL 10–12.

Kegiatan umumnya dilaksanakan di kolam tanah ataupun beton berukuran kecil (100–300 ton vol.) yang memiliki instalasi udara dan air yang baik. Kunci dari sistem ini adalah penerapan biosekuriti yang sangat ketat untuk menghasilkan hasil oslahan yang baik.

Hal senada juga diungkapkan oleh Rudy Kusharyanto, Technical Support, PT Suri Tani Pemuka. Menurut Rudy, sistem nursery bukan hal baru bagi pembudidaya di Indonesia. Pola budidaya ini termasuk sistem yang sudah lama dikembangkan oleh para petambak Indonesia. Namun, seiring dengan makin maraknya penularan penyakit AHPND, system ini mulai dilirik kembali.

Rudy juga yang menjabat sebagai Kepala Divisi Iptek FKPA Lampung melanjutkan, hal ini membuat para petambak mulai berpikir untuk mengembangkan kembali sistem nursery yang lebih mudah, efisien, dan inovatif. Sehingga, sistem ini dapat lebih praktis diterapkan di pusat budidaya yang memiliki risiko tinggi terhadap serangan AHPND.

Menurut Ikhsan, tujuan sistem nursery umumnya untuk menghasilkan benur siap tebar yang lebih besar dan memiliki daya tahan tinggi baik untuk lingkungan atau penyakit. Secara khusus, sistem ini berhasil menekan serangan beberapa penyakit awal, antara lain myo, AHPND, EMS pada budidaya udang di Thailand.

Sistem nursery, layak dikembangkan

Berdasarkan pendapat Agus Hakim, Technical Service Perikanan PT Natural Nusantara (NASA) Yogyakarta, yang pernah berpengalaman di Tambak Udang PT CPB Lampung, sistem nursery sebenarnya sudah lama dipraktikkan di Indonesia. Dulu, udang yang keluar dari pemeliharaan fase nursery disebut bibit tongkolan. Bedanya, sistem nursery yang berkembang saat ini lebih intensif baik dalam kepadatan tebarnya maupun penggunaan teknologi terkini.

Ia berpendapat, jika dilakukan dengan perhitungan yang tepat dalam kepadatan tebar per volume air kolam nursery, kontrol pemberian pakan yang tepat dan sumberdaya manusia yang menguasai, sistem ini layak dikembangkan secara luas di Indonesia. Tantangan yang dihadapi untuk pengembangan sistem nursery adalah penguasaan teknis budidaya siatem nursery dan kendala pengadaan peralatan khususnya di tingkat tambak perseorangan.

Kelebihan sistem nursery

Ikhsan melanjutkan, secara umum, sistem nursery memiliki berbagai kelebihan dalam meningkatkan hasil produksi budidaya udang. Kontinuitas, konsistensi dan dukungan seluruh sektor untuk memasyarakatkan sistem ini dapat menjadi acuan sehingga kegagalan budidaya udang akibat serangan penyakit khususnya pada awal pemeliharaan dapat ditekan.

Di lain pihak, Uus sofyan Anshiry, Headline TS, I and V Bio Indonesia, berpendapat serupa. Menurutnya, penerapan sistem nursery memberikan beberapa keuntungan. Salah satunya adalah tingkat keberhasilan lebih tinggi dibandingkan dengan penerapan satu tahap budidaya (langsung ke kolam pembesaran).

Selain itu, pengendalian/ pengelolaan beragam aspek budidaya lebih mudah dilakukan. Ia juga menyebutkan, praktik nursery dapat menekan biaya persiapan menjadi lebih hemat dan persiapan pemeliharaan lebih cepat.

Keuntungan lainnya adalah terkait dengan masa budidaya pembesaran udang. Dengan sistem nursery, periode budidaya pembesaran menjadi lebih singkat. Hal ini diungkapkan oleh Ondang, Technical Advisor, CV Riz Samudera. Meskipun begitu, ia tetap menekankan pentingnya mendapatkan benur yang sudah terseleksi dan lebih kuat sehingga peluang tingkat keberhasil- an budidaya di tambak bisa lebih tinggi.

Di samping itu, Suprapto Marcel (PM), Manager TS Shrimp Feed, De Heus Indonesia, menyebutkan keuntungan sistem kolam nursery lainnya. Di antaranya yaitu optimalisasi lahan budidaya, dapat memitigasi penyakit, hasil budidaya dapat men- capai 1.5 – 2 kali lipat dibanding budi- daya sistem biasa/konvensional.

Sumber: www.infoakuakultur.com