MAI Usul Kerapu, Kakap Putih, Kepiting dan Nila Masuk Komoditas Unggulan

"Dari berbagai diskusi, dua strategi pengembangan perikanan budidaya yang dijalankan KKP sudah sangat tepat. Namun dari berbagai diskusi, MAI mengusulkan agar komoditas unggulan perikanan budidaya ini ditambah lagi tidak hanya tiga," ujar Guru Besar IPB ini.

TOKOHKITA. Saat ini pemerintah melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong peningkatan produksi perikanan budidaya melalui dua strategi, yakni meninggkatkan komoditas unggulan dan mengembangkan produk perikanan berbasis kearifan lokal atau endemik.

Dalam kesempatan Temu Stakeholders Akuakultur yang digelar Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) secara virtual, Selasa (2/3/2021) Ketua Umum MAI Rokhmin Dahuri mengusulkan kepada Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono agar komoditas unggulan yang saat ini ditetapkan sebanyak tiga komoditas, yakni udang vaname, lobster dan rumput laut untuk ditambah empat komoditas lainnya.

"Dari berbagai diskusi, dua strategi pengembangan perikanan budidaya yang dijalankan KKP sudah sangat tepat. Namun dari berbagai diskusi, MAI mengusulkan agar komoditas unggulan perikanan budidaya ini ditambah lagi tidak hanya tiga," ujar Guru Besar IPB ini.

Menurut Rokhmin, MAI mengusulkan empat komoditas unggulan tersebut adalah ikan kerapu, kakap putih atau baramundi, kepiting, dan ikan nila. "Kenapa ini kami perlu tambahkan, karena permintaan pasar internasional terhadap keempat komoditas perikanan budidaya ini sangat tinggi," jelasnya.

MAI juga menyampaikan alasan ikan kerapu, kakap putih atau baramuli, kepiting, dan nila masuk dalam komoditas unggulan yang dikembangkan pemerintah lantaran tidak hanya permintaannya yang cukup besar, tapi Indonesia mampu memproduknya dalam jumlah besar, seperti halnya udang vaname, lobster dan rumput laut. 

Dalam kesempatan yang sama, Rokhmin juga mengenalkan profil dari MAI yang di dalamnya terdapat banyak stakeholder dari mulai akademisi, peneliti, praktisi, birokrat dan pecinta akuakultur, wartawan, dan lainnya. Keberadaan organisasi profesi MAI dipandang telah efektif mampu secara pelan tapi pasti, sebagai organisasi pemersatu dari berbagai stakeholder akuakultur dengan latar belakang bidang keahlian yang berbeda-beda.

Selain itu, MAI juga memiliki empat lembaga yakni jurnal ilmiah tentang akukultur, lembaga sertifikasi akuakultur, inkubasi bisnis, dan majalah seputar akukultur.

sumber: https://www.tokohkita.co