Pentingnya Kerjsama Wujudkan Visi Poros Maritim Dunia

Kuala Lumpur- Cita-cita Presiden Joko Widodo menjadikan Indonesia sebagai poros maritim tidak bisa dilakukan sendirian. Menurut Ketua DPP Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Rokhmin Dahuri, Indonesia butuh dukungan dari sejumlah negara lain terlebih tetangga. Hal itu diungkapkan Rokhmin Dahuri dalam forus diskusi yang diselenggarakan Institute of Strategic and International Studies (ISIS) bertajuk Kebijakan Poros Maritim di Bawah Presiden Jokowi, antara Tantangan dan Pencapaian, di Kuala Lumpur, Malaysia, Rabu (23/2).

Dato Steven Wong, Deputy Director ISIS dalam kata pengantarnya memberikan sambutan, "Sebuah kehormatan Prof Rokhmin bersedia berbagi pemikirannya dalam forum ini. Karena belum tentu sepuluh atau dua puluh tahun lagi, kita semua mempunyai tokoh dengan pengalaman dan pengetahuan sekonprehensif Prof. Rokhmin."

Menurut Rokhmin Dahuri, Indonesia adalah negara yang mengalami kolonialisasi dan penjajahan yang sangat panjang. Dijajah Belanda, Inggris dan Jepang, memberikan pelajaran penting tentang hubungan internasional.

"Kami ingin tumbuh menjadi negara yang menghormati dan dihormati. Kami ingin maju sebagai negara yang menghargai negara tetangganya, karena kami sangat mengetahui betapa beratnya hidup dalam arogansi kekuasaan negara lain," ujar Rokhmin Dahuri.Karenanya, Indonesia akan bekerjasama dengan baik bersama negara-negara sahabat yang ada. Jika dinamika terjadi, maka harus diatasi, tanpa harus menganggu harmonisasi. Di depan para tamu undangan, intelektual, perwakilan duta besar, Prof. Dahuri menekankan bahwa, Indonesia adalah negara dengan potensi yang sangat besar di masa depan. Dan peran negara sahabat, terutama negara seperti Malaysia menempati titik penting dalam rencana masa depan Indonesia.

"Karena itu, kita harus berhasil melakukan kerja sama dan membentuk kerja sama strategis di antara negara-negara tetangga," terang Rokhmin Dahuri.Di kawasan ini, terang Rokhmin Dahuri, Indonesia adalah negara yang dilewati 60% lalu lintas perdagangan dunia. Dengan posisi strategis seperti itu, tentu kebijakan Poros Maritim yang dicanangkan Presiden Jokowi menjadi sangat penting. Dan inilah yang ingin digali dalam diskusi intens yang diselenggarakan oleh ISIS.

ISIS adalah sebuah lembaga think tank terhormat di Malaysia. Sebuah lembaga intelektual non-profit yang mensuplai kebijakan-kebijakan dasar yang nantinya akan digunakan oleh pemerintahan Kerajaan Malaysia. Berdiri sejak tahuj 1983, ISIS telah menjadi sebuah lembaga think tank yang memberikan peran besar di bidang ekonomi, foreign policy and security studies, social policy hingga perkembangan dan inovasi teknologi.

Pada sesi tanya jawab, suasana semakin menghangat karena para perserta ingin menggali informasi mulai dari posisi Indonesia dalam dinamika Laut China Selatan, kebijakan penenggalaman kapal, hingga tentang sengketa wilayah dan mahkamah internasional.

sumber:http://m.monitorday.com/

Edit title by: Admin (sy)

Leave a reply